Sabtu, 05 Februari 2011

WAWANCARA DENGAN LEO KATARSIS

WAWANCARA DENGAN LEO KATARSIS

Leo Katarsis, seorang seniman teater yang punya pengaruh besar dalam perkembangan teater di Kudus. Mungkin interview ini tidak seratus persen tentang teater. Tapi justru kami ingin mengetahui pemikiran-pemikiran dari Leo Katarsis tentang beberapa persoalan lain. Leo Katarsis adalah teman berdiskusi yang hebat. Di lahirkan di Kudus 11 Agustus 1969, dengan nama di KTP ; Gunadi Siswo Nugroho. Mulai tertarik dan belajar serius di dunia seni peran sejak 1988, dan memilih teater sebagai jalan hidup pada pertengahan 1992 sampai sekarang. Selain sebagai actor, sejak 1994 juga menulis naskah lakon yang hampir semuanya pernah dipentaskan oleh Teater Kuncup Mekar, Teater Samar, dan beberapa group Teater lain di Kudus. Tercatat sudah 18 naskah dari 21 naskah yang di tulis telah dimainkan. 28 kali menyutradarai, baik karya sendiri maupun lakon dari seniman besar di Indonesia dan luar negeri. Tinggal di jalan Masjid Al-Idrus no : 115, Rt : 03 , Rw ; 04 Besito, Gebog, kudus. Contac person : 085225110869.

wAWANCARA DILAKUKAN OLEH ADI DAN GUNAWAN

1. Untuk sedikit perkenalan . Mohon ceritakan tentang awal keberangkatan anda dalam berteater, sejak kapan terjun di dunia teater? pertama kali gabung di komunitas apa? Dan mengapa tertarik untuk menekuninya?

He … he .. Saya sudah agak lupa itu, kenapa bisa sejauh ini tersesat dalam belantara teater. Pada dasarnya, sejak kanak kanak, saya memang sudah tertarik dengan teater. Ketika teman teman sebaya enggan yang namanya nonton wayang atau ketoprak, saya justru bisa berjam jam bahkan sampai pagi, asyik menyimak pertunjukan tersebut.
Di perjalanan tahun 1988, saya mulai serius untuk mempelajari teater di Jakarta. Tentu saja teknik dan pola teater modern yang menjadi menu utamnya. Dan ini yang mempengaruhipandangan serta metode saya dalam berteater di kemudian hari. Berangkat dari keyakinan bahwa manusia adalah makhluk kreatif, saya dan beberapa teman membentuk teater Sandi Galaksi, kami mengartikannya sebagai rahasia alam semesta. Pada akhir tahun 1992, komunitas ini saya jadikan sebagai wahana kamar bedah permasalahan permasalahan yang timbul di benak kami, dari masalah social, ekonomi, politik, fenomena alam, bahkan eksistensi Tuhan. Setelah pencarian yang kadang memakan waktu sampai berbulan bulan, kemudian kami tuangkan hasil pencarian tersebut dalam teknik pemanggungan dengan nilai estetika yang kami yakini dan kami kuasai.. lalu dipentaskan karena capaian itu adalah bagian dari proses teater. Komunitas itu lantas kami bubarkan karena sudah mulai melenceng dari tujuan awal.
Saya tertarik menekuni teater karena dalam teater (seni) kita memiliki kebebasan kreatif untuk mengungkapkan gagasan-gagasan pemikiran tanpa batas, sejalan dengan imaji kita yang sangat mungkin melambung jauh melampaui ruang waktu. Tapi ini tidak berarti lepas dari hakekat kesenian, keselarasan hidup (manusia sebagai sentral ) tetap menjadi pijakan., pembuktian ketepatan gagasan adalah penerimaan masyarakat dan sejarah yang mencatat di kemudian hari.

2. Apakah saat ini ada yang dinamakan suatu bentuk teater Indonesia. Yang manakah yang bisa dikatakan sebagai teater Indonesia?

Ketika kita ingin tahu rumah kita, hendaknya kita keluar dari rumah itu, di pekarangan atau di seberang jalan. Kita bisa mengamati. Seperti apa bentuknya, seberapa besarnya, kemegahannyam lalu benarkah itu memang rumah kita? Dengan segala macam atribut di dalamnya, arsitekturnya dan perabot perabotnya? Benarkah ini adalah bangunan yang di wariskan oleh nenek moyang kiita atau baru beberapa waktu lalu di dirikan para orang tua kita. Atau itu malah rumah sewaan, yang kita pinjam dari tetangga kampong seberang? Tapi rumah itu nyata ada, berdiri di atas tanah milik kita dan kita menempatinya.
Ya tetaer Indonesia adalah teater yang hidup, tumbuh dan berkembang di Indonesia, lepas dari model, bentuk dan gayanya. Teater Indonesia berangkat dari akar MITOLOGI, alam pemikiran, kepercayaan, bahasa, adapt istiadat, dan segenap perilaku manusianya, yang kita sebut sebagai kebudayaan Indonesia. Di awali dari masing masing suku , daerah, hingga bangsa. Dan kita juga tidak bisa menolak pengaruh dari bangsa bangsa lain, seperti : India, Cina, Arab, Eropa, yang kemudian bercampur wajah yang dinamakan teater Indonesia.

3. Apakah dalam kesenian, nilai-nilai Barat atau timur, tradisi atau jati diri, bukan merupakan sebuah politik identitas semata? Ataukah saat sekarang masih sangat perlu pengembangan wacana semacam itu?

Harus kita pisahkan antara politik dan kesenian. Walaupun kesenian sangat mungkin bahkan sangat mudah dipolitisir. System politik di negeri ini misalnya, bisa dirubah rubah bergantung pada penguasa. Dan besarnya pengaruh kekuatannya menekan rakyat untuk mengikuti ideology tersebut.
Tidak demikian dengan kesenian, seperti saya sebutkan di atas, bahwa manusia adalah sentral. Sebesar apapun aliran kesenian yang masuk di tanah kesenian kita, tetap saja kekhasan Indonesia akan nampak. Karya seni selalu lahir dengan uniksitasnya. Sekedar contoh : realisme sosialis yang diusung dalam karya karya Maxim Gorky, sangat berbeda dengan realisme sosialis nya Pram. Atau yang lebih sederhana dan kini sedang marak , orang orang Amerika berbondong bondong mempelajari gamelan dan wayang, atau Malaysia yang gembor gembor mempromosikan barongnya, tidak akan bisa mengambil Apalagi menghilangkan ruh wayang atau barong, Jawa (Indonesia)
Juga dengan teman teman kita yang menekuni musik rock, biarpun mati matian mengikuti gaya dan permainan musisi eropa dan amerika, masih akan terlihat Indonesianya, karena spirit dan ruhnya sangat berbeda.

4. Kesenian sudah jatuh dalam tugas sebagai penghibur saja, salah satu hal yang menjadikan realitas semacam ini adalah karena para senimannya yang kemudian menjadi sekumpulan kaum elit dan memisahkan diri dengan masyarakatnya. Apakah anda setuju dengan hal ini? Bagaimana caranya supaya kader-kader kesenian nantinya tidak hanya berposisi sebagai penghibur (Badut) saja?

Wah ini sangat berkait dengan semangat zaman, kemajuan peradaban selalu di iringi dengan berbagai konsekuensi yang harus di hadapi manusia. Perubahan memang demikian, bagi yang sepakat dengan perubahan akan menyambut dengan gembira kemudian memilih jalannya. Tetapi untuk yang tidak siap, tergagap gagap, bingung dan terseret arus besar pergantian masa tanpa memahami apa yang terjadi dan apa yang telah mereka lakukan. Yang namanya kemajuan, menurut saya perubahan perilaku manusia ( Masyarakat ) berhadapan dengan alam, menuju jenjang pengangkatan harkat, martabat kemanusiaannnya, berjalan harmonis seimbang, menciptakan kehidupan yang tentram, damai, dan sejahtera lahir batin untuk seluruh alam. Tidak mudah memang, utopis kata banyak orang. Tapi kalau itu memang cita cita kemanusiaan, bukankah ini harus menjadi tujuan bersama? Atau setidak tidaknya menuju arah tersebut. Seni (man) sebagai bagian dari pilar kebudayaan, sudah semestinya mengambil peranan dalam setiap perubahan, termasuk seni teater. Ada saatnya kita menjadi badut penghibur yang manis, riang gembira, yang bisa menertawai diri sendiri. Pada gilirannya kita harus menjadi peronda bermata kaca, yang tanggap setiap gejala, kelebat perubahan yang terjadi di masyarakatnya, memberi peringatan, menabuh pertanda, agar kita (masyarakat) tidak terlena. Di saat genting, kita pun bisa malih rupa jadi ksatria berbaju zirah, menghunus kritik tajam, membabat ketimpangan ketimpangan yang terjadi di sekitar. Tapi ada juga yang memilih jadi pecundang, sembunyi di balik kaidah kaidah dan estetika yang tidak jelas, mendekap perut dan kemaluannya sambil menghitung rugi laba. Semua itu sah tidak ada larangan , kita bebas memilih dan menjadi apa, yang terpenting adalah kita menyadari dan memahami pilihan pilihan kita. Sebab setiap pilihan membawa konsekuensi. Jadi ini tergantung pada perilaku itu sendiri, mau kemana dia menuju dan apa yang di cari.

5. Kebudayaan di Indonesia justru terkesan dijadikan sebagai bahan komoditi dan di eksploitasi untuk dijual kepada turis-turis asing. Bahkan saat ini kebudayaan dikaitkan dengan pariwisata (Lihat departemen pariwisata dan kebudayaan), Apakah hal ini merupakan wujud kepedulian pemerintah pada perkembangan kebudayaan ataukah sebaliknya merupakan ketidakpahaman mereka pada posisi kebudayaan itu sendiri? Sebenarnya bagaimana strategi kebudayaan yang tepat?

Waduh saya mohon maaf tidak bisa menjawab pertanyaan anda. Bagaimana strategi kebudayaan yang tepat, karena saya bukan seorang budayawan. Dan saya kira tidak mudah merumuskansebuah strategi kebudayaan yang tepat, karena mencakup seluruh aspek social, kebudayaan tentunya harus ditarik dan di rentang sejarah paling awan hingga prediksi beberapa decade ke depan. Melalui kajian kajia, analisis, dan pembuktian berulang ulang. Sementara dinamika masyarakat terus bergerak dan berubah setiap waktu.
Kalau hasil karya seni (kebudayaan) bisa dijadikan komoditas industri pariwisata, kemudian membawa kesejahteraan pada masyarakatnya termasuk seniman itu sendiri, kenapa tidak?itu upaya yang di lakukan pemerintah untuk memperkenalkan, menunjukkan pada orang asing, inilah kami. Apa yang bisa dibanggakan selain panorama alam yang khas Indonesia dan kebudayaan (seni) nya?
Tapi tidak semua karya seni bisa dijadikan sebagai komoditas , terlebih tidak semua seniman sudi masuk di ruang industri tersebut. Jika pemahaman tentang kebudayaan adalah segenap perilaku dan pemikiran suatu masyarakat dengan segala akibatnya (yang di hasilkan), sebaiknya kebudayaan punya departemen tersendiri. Tetapi kalau pengertian kebudayaan adalah hasil karya cipta seni saja, maka posisi seperti inilah yang terjadi.

6. Saya sangat tertarik dengan diskusi yang pernah di adakan setelah pementasan teater Samar (Sebuah komunitas teater yang didirikan oleh Leo Katarsis) di Padepokan Seni Murni Asih. Saat itu banyak sekali pembicaraan yang menyangkut tentang anarkhisme. Pada awal abad kedua puluh, Peter Kropotkin, salah seorang propagandis anarki (sme) yang paling berpengaruh, mendefinisikan anarkhisme sebagai berikut; dimana masyarakat yang dicita-citakan adalah yang tanpa pemerintahan—keharmonisan dalam masyarakat dicapai bukan dengan mematuhi undang-undang, atau suatu otoritas, namun melalui kesepakatan bebas yang dicapai diantara berbagai kelompok, wilayah dan profesi, yang bergabung secara sukarela—untuk produksi dan konsumsi—dan juga untuk pemenuhan berbagai macam kebutuhan dan aspirasi mahluk yang beradab.” Menurut anda sendiri, apakah paham anarkhisme adalah suatu bentuk gerakan pemusnahan terhadap sebuah tatanan negara?

Tidak, saya tidak sependapat. Saya justru melihat anaskhisme sebagai suatu bentuk kritik terhadap pemerintahan ( Negara ) yang imprelialistik terhadap rakyatnya. Negara didirikan tentulah lengkap dengan perangkat hokum serta undang undang dan landasan cita citanya. Lalu ada sebuah otoritas yang berwenang memimpin. Mengarahkan menuju cita cita yang dimaksud sesuai dengan undang undang dan hokum yang telah disepakati. Dengan demikian interaksi sosial masyarakat bisa teratur. stabilitas terjaga. Setiap warga memperoleh haknya, keadilan dan kemakmuran bisa terwujud. Kehidupan yang damai, sejahtera, saya kira itu cita cita semua manusia di bumi. Tapi bila Negara didirikan,, Negara dibuat hanya untuk melindungi kemakmuran kelompok tertentu yang mengakibatkan kesengsaraan yang lain, atau memberi kekuasaan golongan tertentu untuk menindas rakyat, sebaiknya dibubarkan saja, tidak perlu ada Negara.

7. bila kita kembali ke sejarah awal peradaban manusia, kita dapat melihat bahwa anarkhi telah menjadi karakteristik bagi kehidupan manusia. Mereka hidup tanpa eksistensi negara, egalitarian secara sosial, politis dan ekonomi. berarti cita-cita dalam anarkhi adalah sesuatu yang rasional. Ataukah ini hanya sebuah impian? Kira-kira persoalan apa yang melandasi gerakan ini?

Saya agak bingung dengan pernyataan dan pertanyaan anda. Negara adalah pembesara dari sebuah keluarga atau kalau kita balik, keluarga adalah bentuk kecil suatu Negara. Sebuah keluarga memiliki kedaulatan sendiri. Ada peraturan yang mengikat seluruh penghuni rumah dan semua harus mematuhi. Tentu saja peraturan ini akan selalu berubah sesuai dengan perkembangan baik dari segi kebutuhan maupun pemahaman terhadap kehidupannya. Ketika sudah terbangun kesadaran akan hak dan kewajiban dari masing masing penghuni, maka keluarga tersebut akan tenteram, damai, tapi bagaimana bila berjalan timpang? Misalnya bapak yang punya kewajiban menyekolahkan anaknya, tapi tidak bisa karena tidak ada biaya, karena uang hasil kerja telah habis untuk berjudi di luar? Akibatnya anak akan kehilangan hak untuk memperoleh pendidikan.

8. Apakah Anda menyetujui anarkhisme? Mengapa?

Anarkhisme sebagai kritik terhadap imperialistisme Negara, ya. Untuk mengingatkan kepada mereka yang duduk di kursi pemerintahan bahwa kekuasaan yang dipercayakan rakyat, tidak untuk keleluasaan bertindak yang menyebabkan rakyatnya menderita, tetapi suatu amanat untuk memimpin bangsa ini menuju cita cita bersama, yakni masyarakat (bangsa) yang bermartabat dan berdaulat, adil, dan makmur lahir batin.

9. Negara, sebagai bentuk kekuasaan, terlepas dari kekuasaan yang diberikan oleh atau diambil alih dari masyarakat, Pada tahap perkembangannya melahirkan suatu bentuk hirarki dan kekuasaan elitis, yang mempunyai dampak luas dan mendalam terhadap kehidupan sosial, melakukan pengontrolan yang sistematis pada populasi, dan kehidupan. Apakah anda setuju bahwa arah kebudayaan sangat tergantung dari peran negara? Mohon berikan pendapat anda tentang hal ini.

Negara hanyalah wadah dan masyarakat (bangsa) adalah isinya. Ibarat sebuah kendaraan, pemerintah adalah sopir yang akan melajukan kendaraan sesuai tujuan pemiliknya (rakyat), sopir tidak semena mena membelokkan arah tanpa persetujuan sang pemilik/penumpang, kalau tidak ingin dipecat, atau pemilik mengganti sopir baru yang lebih paham tujuannya.
Begitupun arah kebudayaan suatu bangsa, tidak bisa hanya bergantung pada pemerintahannya, peranan masyarakat justru lebih besar menentukan arah kedepan. Kebudayaan “Aztec” (bangsa asli amerika) tersingkir dan hanya menjadi catatan sejarah (benda museum) disebabkan adanya gelombang besar bangsa Eropa (kulit putih) yang kemudian menguasai benua Amerika, melakukan perburuan dan pembantaian terhadap penduduk asli, bangsas Indian hingga hanya tersisa beberapa gelintir saja. Kemudian mendirika Negara Negara baru dengan kebudayaan baru yang dominant yang tidak jauh dari kebudayaan mereka berasal, yakni Eropa. Jadi kesimpulannya, bahwa arah kebudayaan suatu bangsa tergantung kemana bangsa itu menuju. Perlu dicatat disini, bahwa pemerintah juga bagian dari bangsa tersebut.

10. Ataukah anarkhi justru merupakan suatu bentuk pesimisme superior yang menihilkan seluruh kapasitas, potensi dan kemungkinan umat manusia mengkonstruksi masa depan yang lebih baik? Suatu kekacauan bagi kemajuan modern? Bagaimana dengan hal ini.

Sebagai wacana, tidak masalah. Tohsemua system pemerintahan yang diterapkan di berbagai Negara di dunia sifatnya eksperimental, yang bisa (akan) diperbaiki atau bahkan diganti ketika ternyata tidak cocok. System pemerintahan Amerika Serikat misalnya, belum tentu sesuai bila diterapkan di Negara Negara arab atau Indonesia. Juga faham yang di anut bangsa bangsa eropa bisa jadi tidak tidka tepat (selaras) dengan semangat bangsa bangsa Asia. Begitu juga sebaliknya. Pokok penting disini adalah tidak adanya suatu pemaksaan suatu kelompok masyarakat terhadap kelompok masyarakat lain untuk mengikuti faham yang dianutnya. Kalau itu dilakukan, pastilah terjadi kekacauan. Padahal semua faham yang lahir di dunia ini dimaksudkan demi kemaslahatan umat manusia. Saya percaya itu!!

11. Sekarang kita ngobrol masalah yang lebih pribadi. Dalam perjalanan hidup yang sudah dilalui hingga hari ini, apakah anda masih sering mengalami rasa bosan? Dalam keadaan seperti apa anda terjebak dalam suasana seperti itu?

Rasa bosan saya bisa menghinggapi siapa saja, termasuk saya. Tetapi ketika saya sudah menemukan tujuan hidup saya, kemudian meyakini jalan hidup yang telah saya pilih, saya akan mencurahkan seluruh pikiran, perasaan , jiwa raga saya mengarah pada tujuan itu. Ya kebosanan kadang masih hadir. Terutama saat sya menghadapi keadaan yang beku, stagnan, terjebak dalam rutinitas yang ajeg. Biasaya saya mengatasi hal itu dengan cara merubah pola kebiasaan saya.

12. Apa kegelisahan anda saat ini melihat kondisi kebudayaan bangsa Indonesia?

Saya mengharap timbulnya sebuah revolusi kebudayaan. Tumbuhnya kesadaran baru bangsa ini secara serempak untuk menengok kembali apa landasan dan tujuan Negara kesatuan Republik Indonesia ini. Dibentuk. Jalan mana yang dipilih? Agamiskah? Liberaliskah? Sosialiskah? Atau apa. Agar jelas karakteristiknya, supaya tegas pencitraanya dimata masyarakat internasional. Dan tentunya sampai pada citacita yang telah dirintis para pendirinya sejak Negara ini berdiri, sudah lebih dari 60 tahun, berkali kali ganti pemimpin, selalu tidak jelas marah kebijakan yang ditempuh. Pimpinan baru kebijakan baru, dan tidak ada sambungan benang merahnya. Masyarakat menjadi bingung, karena memang tidak ada pedoman. Jangankan menemukan makna hidup, kemudian menata kehidupan , untuk mempertahankan hidupnya saja sulit.akhirnya pasrah mengikuti arus yang ada.

13. Indonesia adalah negeri yang memiliki sumber alam yang kaya raya, tetapi ternyata sampai saat ini Indonesia malah termasuk negara miskin. Kira-kira apa yang salah dalam pembangunan negara ini?

Ironis memang. Seperti pepatah “ayam mati di lumbung padi”. Saya kira mentalitas yang buruk dari bangsa ini yang menjadi sebab utamanya, korup, malas, tidak memiliki daya juang tinggi, cepat puas, suka pemberian, kehilangan jiwa patriotic, tidak punya kebanggan terhadap negerinya sendiri, semangat kebangsaan yang padam, kehormatan hanya di ukur setinggi apa seseorang meraih jabatan, penghargaan ditimbang dari seberapa banyak dia menumpuk hartanya. Jelas, pembangunan karakter bangsa ini belum selesai. Dan kita sudah terlanjur menerima arus besar globalisasi. Sebagai akiibatnya, kita sulit menemukan identitas diri kita sendiri. Ini terjadi di hamper seluruh kawasan yang disebut sebagai Negara Negara dunia ketiga.

sALAM SEMUANYA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar